Cerita Cinta
Cerita Cinta (Blue)
ADA CINTA
DI PAPAN CATUR
BY NOVITA
WINDA SARI
Saat itu aku merasa cemburu. Dia tanpa
perasaan mengabaikan aku yang terlanjur rindu akan gurauannya. Yang lebih
membuat ku merasa sakit adalah ketika dia memilih bercanda ria dengan
sahabat ku sendiri.
Dia bernama CANDRA PRIMA, aku tak tahu sejak kapan
aku mulai menyukainya. Bagi ku dia adalah cahaya yang memberi ku banyak energi untuk tetap bertahan pada
satu rasa yang ku yakini suatu saat nanti akan berlabuh pada ku. Tapi tak
pernah ku sangka aku justru akan tertarik padanya. Dia berhasil mengalihkan
dunia ku dari seorang Reno Kurniawan yang sejak dulu menjadi satu-satunya dalam
hati ku.
Namun cinta ini hanya di izinkan sebatas untuk
mengenal rasa tak terbalas lagi. Aku muak, semakin ingin lari dari rasa yang
membelenggu ku. Prima hanya mengenal ku sebagai teman, bukan dengan perasaan
lebih.
Semakin hari, ku lihat dia semakin dekat dengan
sahabat ku. Itu membuat ku merasa sangat tidak nyaman. Rasanya dunia tak pernah
mau berpihak pada ku. Kedekatan mereka bukan membuat ku bahagia tapi menambah
luka yang memang pernah ada.
Aku ingin jujur tapi takut. Takut menerima
kenyataan bahwa dia mencintai Neyla sahabat ku.
“janur belum melengkung”. Ucap Prima waktu itu.
Kala itu dia bertanya pada ku. Apakah benar-benar menyayangi Reno dan tentu ku
berikan senyum sebagai jawaban ia. Prima tersenyum untuk yang kesekian kalinya.
Aku tahu dia begitu baik. Tidak seperti cowok lain yang sering mengucap kata
untuk sekedar meruntuhkan angan ku.
“jangan putus asa ya !”. lagi-lagi dia berucap
seraya tersenyum. Prima selalu memberi support walau dengan ke jailannya. Dan
aku, tanpa sadar mulai mengartikan rasa simpatinya sebagai sebuah perhatian.
Itu lah yang membuat ku merasa bersalah padanya dan Neyla. Karena sifat GR ku
hingga membuat ku merasa tak nyaman bertemu dengannya. Dan hari itu aku
mendapat makna dari kedekatannya dengan Neyla.
Bermula dari sebuah permaianan catur. Kami
bertiga, aku, Neyla dan Prima bermain dengan penuh semangat. Di bumbui oleh
canda tawa, kearaban pun semakin tercipta. Ada bualan dan juga gurauan tapi
kali ini aku merasa berbeda.
“wahhhhh kalo loe kalah, loe harus siap gue cium”.
Ucapnya pada Neyla yang saat itu sedang berlawanan dengannya. Permaianan catur
semakin membuat mereka tambah dekat. Aku terhenyak mendengar semua itu. Aku tak
bisa terus berada diantara mereka. Tapi jika aku pergi Neyla juga akan ikut
pergi bersama ku. Aku tidak ingin rasa egois ini menguasai ku. Ku langkahkan
kaki diam-diam dan pergi ketika mereka tengah asyik bermain. Neyla tak sempat
memperhatikan ku.
Senja.
Sejak bersedih setelah mendengar Prima bicara seperti, aku memilih berdiri di
depan senja. Berharap ia bisa membawa rasa sakit ku yang terlanjur menyentuh
nurani. Tak bisa di pungkiri air mata ku jatuh. Aku menangis sepelan siang
berganti malam. Tak ingin ada yang tahu tentang sesak ini. Biarkan aku
terhanyut dalam perihnya rasa seorang diri.
Mentari
sempat bersinar pagi ini. Aku merasa lebih baik karena telah menangis semalam
tapi ada masalah baru. Mata ku sembab, sangat sembab dan itu membuat Neyla tak
berhenti beertannya pada ku.
“loe kenapa Nana ???? semalam loe nangis ?”. Tanya
Neyla. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.
‘maaf Ney..kali ini gue tak bisa cerita ke loe’.
Lirih hati ku.
“nangis kenapa loe ?”. Neyla tetap bertanya pada
ku.
“gue nggak apa-apa Ney..hanya masalah kecil tapi
gue belum siap cerita ke loe”. Aku tahu Neyla akan mengerti jika aku berkata
seperti itu.
“oke”. Terimanya walau masih tak rela. Aku mencoba
tersenyum.
Masih terhanyut pada rasa bersalah terhadap Neyla
karena aku mencintai Prima.
Ini tak biasa bagi kami berdua. Aku dan Neyla
sudah seperti saudara kandung walau hanya sebatas sahabat. Bagi ku dan Ney
kebahagian sahabatnya adalah nomor satu. Tak peduli itu cinta atau sekedar rasa
biasa, bagi kami apapun yang bisa membuat bahagia sahabatnya, yang lain akan
berkorban. Aku sadar jika sedikit saja Neyla mulai mengerti rasa ini maka dia
akan membuat Prima dekat dengan ku walau ia tahu Prima menyukainya. Neyla tidak
akan pernah peduli pada perasaan orang lain, meski rasa itu juga tumbuh
dihatinya.
“heyyy, loe berdua ngapain ngelihatin gue sampai
segitunya ???”. Aku tahu itu suara Chandar Prima. Ternyata tanpa sadar dia
telah berada di depan ku dan Neyla.
“yeeee, siapa juga yang ngelihatin loe ?”. Kali
ini suara Neyla yang menggema.
“hahaaa..Btw siapa yang kalah kemarin ?”. Aku
berusaha bersikap biasa. Bertanya tentang permainan yang kemarin ku tinggalkan
diam-diam.
“oia..kemarin kenapa loe main pergi aja Na ?, gak
ngomong-nngomong...pas gue nengok ke samping, eh loe udah gak ada di situ”.
Tanya Prima.
‘Ya tuhan ternyata kemarin dia mencari aku, tapi
cukup. Sadarlah Nana, kamu hanya temannya’. Batin ku.
“hey Nana.. loe kenapa sih ngelamun mulu”. Prima
berucap seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata ku.
“kemarin gue sakit perut. Jadi siapa yang menang
kemarin ??”. Tanya ku.
“gue dong”. Jawab Neyla.
“huhhhh untung loe yang menang. Kalo gue yang
menang udah gue cium loe”.
“haha loe kenapa Prima dari kemarin ngomong cium
terus ke Neyla?, loe suka ya sama dia ?????? hayoooooo ngaku...”.
“ahh apaan sih. Gue tu suka sama loe Na”. Deg,
jantung ku berdetak makin keras. Apalagi ini Prima, mengapa tega membuat ku
berharap pada satu rasa yang tak pernah bisa ku miliki.
“cieeeee. Prima kenapa loe langsung lari ?, kasih
kejelasan dongg buat Nana hahahaaaaaaaaaaa”. Teriak Neyla pada bayang Prima
yang mulai menghilang di balik pintu.
Aku terdiam, masih seperti tadi pagi. Merasa aneh
pada sikap Prima yang membuat ku plin plan. Sebenarnya ada apa dengan rasa ini.
Mengapa begitu sulit. Tak berhakah aku bahagia walau hanya sekejap.
“Nana..pulang bareng siapa ???”. Tanya Prima.
Suara itu mencengkram hati ku. Membuat sesak ini semakin nyata. Kadang aku
bertanya pada angin, apa yang sebenarnya terjadi.
Jujur, Kemelut rasa yang dari dulu seperti di
tarik ulur membuat aku seakan jera pada makna cinta. Mungkinkah masih akan ada
nyata pada angan indah itu atau justru menjadi semakin semu ketika mulai
berlabuh.
“gue pulang bareng Neyla. Loe ?”.
“sama loe..haha. jangan sembunyikan sesuatu y,
Nana”. Prima berlalu lagi dari hadapan ku. Apa maksud ucapannya ini. Sungguh,
semakin membuat ku merasa lelah.
Embun
pagi seakan menyapa ku yang kini masih ingin berada di alam mimpi. Tak ingin
bertemu Neyla ataupun Prima. Hanya ada aku dan selimut ku. Tapi aku tak bisa
menghindar, rasa ini biarlah aku pendam selamanya. Tak ingin Prima tahu tentang
cinta ku yang ternyata tumbuh karena papan catur. Cinta yang tanpa sadar ku
ukir sendiri bersama mereka dalam permaian Skak, Bom, Stir.
“hahahaa ternyata ada cinta di papan catur”. Ucap
ku sambil tersenyum. Telah ku iklaskan semua ini. Biarkan kenangan indah ini
terukir antara catur, Neyla, Aku dan juga Prima.
THE END.
Komentar
Posting Komentar