InspirasiAwindsari


Badrun
Oleh Awindsari

"Badrun, kau tinggal sendirian sekarang". ucapnya pagi itu. aku tertegun mendengar semua itu. ingin rasanya air mata ini jatuh namun dia akan semakin sedih bila melihat ku menangis. 
"tidak apa-apa bang. yang sabar ya". kata ku menenangkan. dia tersenyum miris. mungkin sedang mengingat-mengingat perjalanan hidupnya selama 1 tahun ini. berantakan. itu kata yang pantas untuk nya. semua berakhir dengan cara yang sangat mengerikan. aku merasa bukan hanya harta yang pergi namun semangatnya pun ikut pergi.
"sekarang aku harus bagaimana, dik ?". tanyanya pada ku. jujur saja pertanyaannya sama sulitnya dengan pemikiran ku saat ini. aku pun bingung dan yang hanya bisa ku lakukan saat ini adalah menghiburnya, selalu bersamanya. itu saja. bukan tidak pernah mempersiapkan jawaban dari pertanyaannya ini namun aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk keluar dari masalah ini.
"aku tidak tahu bang tapi sebaiknya abang berdoa saja semoga tuhan memberikan jawaban". kata ku. 
"tuhan terlalu sayang ruapanya". katanya. aku kembali ingin menangis. aku seharusnya tahu dia jauh lebih dari sekedar sedih dari pada diri ku. bagaimana mungkin aku menjadi serapuh ini sedang dia ingin aku menjadi sandarannya. ya tuhan masih pantaskah aku menjadi sandaran untuknya. aku mohon kuatkan dirinya. sebenarnya dia jauh lebih rapuh dari ku. tapi dia selalu bisa menahanya didepan ku meskipun tak jarang aku melihatnya menangis sendirian dikamar mandi..
"abang". panggil ku. 
ku pegang erat tangannya. maksud hati ingin dia tahu bahwa aku masih ada disini untuknya. namun aku sendiri tidak yakin apa yang harus kami lakukan untuk selanjutnya.
##
detik berganti menit. menit berganti jam. jam pun berganti hari. keadaan masih tetap sama. kami berdua masih dalam keadaan luntang lantung tak tahu arah. sementara itu Badrun mulai merasa lelah. aku yakin. itu dapat dilihat dari suara nya yang mulai terdengar serak.
"bre'm bre'm...". sekali dua kali suara itu mati. ibarat manusia dia pasti lapar dan haus karena sudah dua hari tak dikasih makan dan minum. kasihan si badrun. andai dia bisa bicara mungkinkah dia akan bilang 'aku lelah' pada kami karena dibawa kesana kemari tanpa henti tapi sayangnya dia tidak bisa bicara. hanya suara serek-serek yang menyilukan yang terdengar.
"maafkan aku badrun". ucap ku tulus. aku berkhayal ia menganggukan kepalanya dan bilang 'iya. aku tak apa-apa'.
"apa yang kau lakukan dik???". tanya bang Guntur pada ku yang tak henti-hentinya memandangi Badrun.
"Tidak bang. Hanya memperhatikan Badrun yang kehausan". Jawab ku padanya. Bang Guntur pun ikut melirik Badrun. Dielusnya kepala Badrun seolah badrun benar-benar bernyawa seperti kami. Badrun adalah motor kesayangan Guntur. Dia memberi nama pada motor itu sudah lama sekali.
"Bang ceritakan pada ku kenapa abang memberi motor ini nama Badrun ??". Pinta ku pada Guntur.
"Entahlah". Guntur hanya tersenyum. Memberi isyarat bahwa Badrun begitu berarti untuk nya. Badrun sudah menemaninya sejak dulu ia masih dibangku SMA. Menjadi banyak saksi bisu di hidupnya.
Guntur menyayangi Badrun lebih dari apapun. meskipun kini badrun sudah sangat berbeda dari yang dulu tapi Guntur tetap menyayanginya. Bedanya adalah badrun yang dulu masih ganteng namun kini sudah tua dan sering batuk-batuk. Badrun dan Guntur sering berjuang bersama melawan kematian. mereka pernah beberapa kali terjatuh dijalan namun keduanya selamat meskipun banyak luka disana-sini baik pada Badrun maupun Guntur. 
"Banyak sekali kenangan manis bersama Badrun". Ucap Guntur. Dia terkenang. Sedih kemudian tersenyum.
"Terima kasih sudah menyayangi badrun seperti aku menyayanginya". Guntur kembali berucap.
aku ternyum sendu.
"Badrun, lihat lah..Guntur menyayangi mu lebih dari apapun. Jadi jangan pernah pergi dari sisinya. Jagalah ia jangan sampai terluka". Kali ini hati ku yang berkata tanpa sedikitpun Guntur tahu.

END.


BadrunStorybyAwindsari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUISI GALAU

Patah_Awindsari_